Peneliti Prediksi Harga Komoditas Akan Stabil Tahun Depan: Benarkah?

Peneliti Prediksi Harga – Kami membuka pembahasan ini dengan pertanyaan sederhana: bila laporan menyebut pasar akan stabil, apa arti kata itu bagi pelaku usaha dan pembuat kebijakan?
World Bank dan Bank Dunia menandai tren penurunan beruntun hingga 2026, dengan brent diperkirakan sekitar US$64 pada 2025 dan US$60 pada 2026. Data juga menunjukkan batubara turun signifikan, sementara pupuk sempat melonjak lalu menurun lagi.
Kami menilai bahwa stabil sering berarti pergerakan di kisaran terbatas, bukan nol perubahan. Dalam konteks ekonomi global, rata-rata masih lebih tinggi dari level 2019, sehingga persepsi stabil perlu pembacaan yang hati-hati peneliti prediksi harga.
Dalam rangka itu, kami akan membahas lintas sektor—energi, pangan, logam—dan bagaimana ketidakpastian politik, perdagangan, serta cuaca dapat mengubah peta harga komoditas. Kami berjanji menyajikan data konkret dan implikasi praktis untuk membantu pembaca bertindak.
Gambaran Umum: Apa yang Dimaksud “Stabil” di Tengah Tren Turun?
Istilah “stabil” sering disalahpahami; kami akan mengurai maknanya dalam kondisi pasar yang menurun.
Dalam praktik pasar, stabil biasanya berarti pergerakan dalam koridor harga yang relatif sempit, bukan nol perubahan. Pada fase penurunan, konsolidasi tersebut bisa muncul sebagai moderasi penurunan dengan volatilitas harian yang menurun peneliti prediksi harga.
Menurut bank dunia, proyeksi melemahnya level rata-rata pada 2025–2026 tetap di atas periode 2015–2019 secara riil. Faktor yang mendorong penurunan meliputi pertumbuhan global yang lemah dan ketidakpastian dalam perdagangan peneliti prediksi harga.
- Konsolidasi harga: kisaran yang lebih sempit setelah penurunan tajam.
- Horizon waktu: kuartalan bisa tampak stabil meski rata-rata tahunan turun.
- Persepsi risiko: penurunan risiko menyempitkan spread antarkontrak.
| Aspek | Karakteristik | Implikasi |
|---|---|---|
| Koridor | Pergerakan terbatas | Perencanaan pasokan lebih mudah |
| Volatilitas | Menurun harian/mingguan | Kontrak jangka pendek lebih andal |
| Subsektor energi | Potensi level rendah lima tahun | Konsolidasi pasca-penurunan |
Pemahaman ini membantu kita menafsirkan narasi “stabil” bukan sebagai pembalikan tren, melainkan penguatan kisaran yang lebih dapat diprediksi dalam konteks ekonomi global yang rentan.
Laporan Bank Dunia Terbaru: Arah Harga Komoditas 2025-2026
Kami merangkum intisari laporan terbaru untuk memberi gambaran praktis tentang arah pasar global pada 2025–2026.
Harga diproyeksi turun, namun tetap di atas level pra-pandemi
Menurut bank dunia, proyeksi menunjukkan penurunan agregat sekitar 12% pada 2025 dan 5% pada 2026 (riil).
Varian energi lebih dalam: -12% pada 2025 dan -10% pada 2026. Meski begitu, tingkat untuk 2025 dan 2026 diperkirakan masing-masing 23% dan 14% di atas 2019.
Ketidakpastian kebijakan dan gejolak perdagangan sebagai latar
- Pelemahan didorong oleh pertumbuhan global yang moderat dan hambatan perdagangan.
- Penurunan membantu meredam inflasi setelah lonjakan energi 2022.
- Permintaan minyak melemah karena penetrasi EV/hybrid; surplus berisiko melebar pada 2025.
- Kebijakan tarif, subsidi, dan kontrol ekspor dapat mengubah alur pasokan secara mendadak.
| Aspek | Proyeksi | Dampak |
|---|---|---|
| Agregat | -12% (2025), -5% (2026) | Tekanan turun pada rata-rata harga |
| Energi | -12% (2025), -10% (2026) | Kontribusi inflasi menurun |
| Permintaan minyak | Melemah struktural | Potensi surplus 2025 |
Energi di Garis Depan: Harga Minyak, Batu Bara, dan Gas Menuju Level Terendah Lima Tahun
Sektor energi memimpin gelombang penurunan indeks, dengan beberapa subsektor bergerak ke level terendah lima tahun.
Brent diperkirakan bergerak rata-rata US$64 pada 2025 dan US$60 pada 2026 karena pasokan longgar dan permintaan yang melemah, termasuk adopsi cepat kendaraan listrik di China. Bank Dunia mencatat proyeksi penurunan agregat yang mendorong koreksi pada energi.
Batu bara menghadapi penurunan tajam: proyeksi menunjukkan sekitar -27% pada 2025 dan -5% pada 2026. Melambatnya pertumbuhan konsumsi listrik di beberapa negara berkembang dan pergeseran bauran energi menjadi faktor utama.
LNG menunjukkan pola berbeda. Eropa mengalami tekanan pada 2024 lalu berpotensi penyesuaian moderat di 2025–2026. Sementara itu, harga LNG AS diproyeksi naik signifikan didorong ekspor dan kapasitas baru, dan Jepang umumnya mengikuti pergerakan Eropa dengan volatilitas lebih kecil.
| Subsektor | Proyeksi | Driver |
|---|---|---|
| Minyak (Brent) | US$64 (2025), US$60 (2026) | Pasokan longgar, adopsi EV China |
| Batu Bara | -27% (2025), -5% (2026) | Permintaan listrik melambat |
| LNG (AS / Eropa / Jepang) | AS naik, Eropa turun lalu stabil | Ekspor, penyimpanan, kontrak jangka panjang |
Secara keseluruhan, faktor pasokan dan keputusan produsen akan menentukan seberapa dalam koreksi berlangsung, dengan implikasi langsung pada biaya listrik domestik.
Dinamika Permintaan dan Pasokan: EV, OPEC+, dan Surplus Minyak Global
Kami melihat dua faktor besar menentukan keseimbangan pasar: perubahan teknologi transportasi dan perilaku produksi negara produsen. World Bank menilai penjualan mobil listrik yang meningkat secara signifikan menuju 2030 menekan permintaan minyak secara struktural.
Adopsi kendaraan listrik menahan permintaan minyak
Penetrasi kendaraan listrik dan hibrida mengubah pola konsumsi bahan bakar. Ini bukan sekadar siklus; dampaknya permanen pada elastisitas permintaan terhadap guncangan pasokan.
Produksi OPEC+ dan potensi pendalaman surplus
Jika OPEC+ melonggarkan pembatasan, pasokan bisa meningkat tajam. Salah satu varian proyeksi menyebut surplus 2025 berpotensi 65% di atas puncak 2020, yang menekan harga energi.
- Permintaan melemah + pasokan meningkat = titik keseimbangan turun.
- Efisiensi energi pada transportasi menahan reli harga jangka menengah.
- Data persediaan mingguan memicu fluktuasi jangka pendek.
| Faktor | Pengaruh | Implikasi 2025 |
|---|---|---|
| Adopsi kendaraan | Permintaan minyak turun | Tekanan turun pada harga minyak |
| OPEC+ produksi | Pasokan meningkat | Memperdalam surplus |
| Pasokan & permintaan | Interaksi dinamis | Rentang konsolidasi bergeser lebih rendah |
Kami menyimpulkan: disiplin produksi OPEC+ dan trajektori adopsi EV global akan sangat menentukan level pasar. Dalam lingkungan seperti ini, strategi lindung nilai menjadi penting bagi pelaku hulu-hilir untuk menjaga margin.
Pangan: Harga Beras, Gandum, Kedelai, Kopi, Kakao dan Pupuk
Di bagian ini kita menelaah prospek pangan dan konsekuensi langsung bagi rantai pasok pertanian.
Menurut bank dunia, agregat harga pangan diperkirakan turun sekitar 6–7% pada 2025 dan 0–1% pada 2026. Penurunan ini terjadi meski risiko kerawanan tetap tinggi di negara rentan.
Pangan turun 2025 namun dampak kerawanan masih menghantui
Beras dan gandum cenderung lebih terjangkau di beberapa negara berkembang, yang dapat meredam tekanan inflasi pangan secara lokal.
Kedelai diproyeksikan turun pada 2025 karena produksi rekor dan ketegangan dagang, lalu relatif stabil. Perubahan ini memengaruhi pasokan pakan dan permintaan minyak nabati.
Kopi dan kakao berpotensi melemah pada 2026 saat pasokan pulih, setelah reli akibat gangguan cuaca dan penyakit tanaman.
Pupuk melonjak 2025: margin petani tergerus
Pupuk diperkirakan melonjak sekitar 21% pada 2025 lalu turun 5% pada 2026. Lonjakan ini mengikis margin petani dan meningkatkan risiko penurunan output jika subsidi dan pembiayaan tidak mencukupi.
Keterkaitan dengan energi juga penting: biaya energi dan listrik irigasi ikut memperbesar beban. Kami menyarankan pengadaan dini atau kontrak berjangka untuk mengelola penurunan harga hasil panen versus kenaikan input.
| Komoditas | Proyeksi 2025 | Implikasi |
|---|---|---|
| Beras & Gandum | -6–7% | Meredam inflasi pangan bila kebijakan perdagangan baik |
| Kedelai | -6–7% (rekor produksi) | Stabil untuk pakan, tekanan pada minyak nabati |
| Pupuk | +21% | Menekan margin petani, risiko hasil panen |
Logam dan Mineral: Aluminium, Tembaga, Nikel, Timah, Seng, dan Bijih Besi

Di segmen logam, pasokan dan investasi menentukan sentimen menjelang 2025. Kami melihat pola pemulihan yang terkait erat dengan proyek transisi energi dan aktivitas industri.
Transisi energi mengangkat permintaan untuk logam tertentu pada 2025
Bank Dunia memperkirakan 2024 melemah untuk banyak logam, namun 2025 berpotensi bangkit. Aluminium dan tembaga diproyeksikan naik sekitar 9%, timah sekitar 8%, sementara seng ikut menguat.
Nikel mengalami kelebihan pasokan pada 2024 dari Indonesia dan Filipina. Namun, kebutuhan baterai yang meningkat bisa mendorong pemulihan pada 2025–2026.
- Transisi energi mendorong permintaan tembaga, aluminium, timah, dan seng.
- Bijih besi diperkirakan turun karena permintaan China lemah, meski pasokan baru menambah fleksibilitas.
- Investasi tambang dan smelter akan menentukan kecepatan penyesuaian pasar.
| Logam | Proyeksi 2025 | Driver |
|---|---|---|
| Aluminium | +9% | Infrastruktur listrik, panel surya |
| Tembaga | +9% | Jaringan listrik & EV |
| Nikel | Rebound 2025 | Produksi baterai meningkat |
| Bijih Besi | Turun 2024–2025 | Pelemahan permintaan konstruksi |
Kita menyarankan pelaku industri meninjau kontrak jangka menengah. Korelasi antar logam dan indikator manufaktur bisa memberi sinyal awal bagi strategi lindung nilai.
Emas dan Perak: Safe Haven di Tengah Ketidakpastian
Logam mulia sering berperan sebagai jangkar ketika pasar global penuh ketidakpastian. Kita melihat peran ini dalam data Bank Dunia yang menyorot potensi reli pada 2025.
Kami menilai emas berpeluang mencetak rekor pada 2025 karena kombinasi ketidakpastian geopolitik, suku bunga riil yang rendah, dan arus masuk investasi ke aset lindung nilai. Pada 2026, proyeksi menunjukkan kecenderungan stabil jika tekanan makro mereda.
Perak: penguat awal, lalu moderasi
Perak biasanya mengikuti emas, tetapi permintaan industri membuat pergerakannya berbeda. Saat kekhawatiran inflasi dan resesi mereda, perak cenderung menguat lebih dulu lalu menurun.
- Kita jelaskan: emas naik karena arus modal ke safe haven dan suku bunga riil.
- Kita uraikan: perak sensitif pada permintaan industri serta sentimen investor.
- Kita tegaskan: eskalasi konflik Timur Tengah bisa mendorong emas jauh lebih tinggi.
| Aspek | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| Emas | Potensi rekor (arus lindung nilai) | Relatif stabil jika suku bunga normal |
| Perak | Menguat karena safe haven + industri | Moderasi saat kekhawatiran mereda |
Kami menyarankan diversifikasi porsi logam mulia dalam portofolio sebagai penahan volatilitas saat segmen lain melemah. Rebalancing dan manajemen posisi penting karena koreksi tajam bisa terjadi setelah reli.
Peneliti Prediksi Harga Komoditas Akan Stabil Tahun Depan: Benarkah?
Klaim soal ‘stabil’ perlu diuji dengan data yang lebih rinci, bukan hanya judul besar.
Kita bandingkan narasi itu dengan proyeksi World Bank dan Bank Dunia yang menunjukkan penurunan agregat pada 2025–2026. Secara rata-rata tahunan, penurunan masih dominan meski beberapa kuartal bisa tampak tenang.
Gambaran sektoral menunjukkan divergensi nyata. Energi, terutama minyak dan batu bara, mendorong koreksi. Sebaliknya, emas berpotensi menguat dan beberapa logam transisi bisa pulih karena kebutuhan energi bersih.
Kita tegaskan: istilah ‘stabil’ harus dipakai dengan jelas — apakah mengacu pada volatilitas, rata-rata tahunan, atau harga spot. Metodologi dan horizon waktu menentukan interpretasi.
Kaitkan ke keputusan praktis: strategi penetapan harga dan kontrak pasokan harus menyesuaikan tren sektoral. Lindung nilai perlu dirancang berdasarkan risiko spesifik, bukan headline agregat.
| Sektor | Arah | Implikasi |
|---|---|---|
| Energi | Menurun | Tekanan margin dan penyesuaian pasokan |
| Emas | Menguat | Alokasi safe-haven meningkat |
| Logam transisi | Pulih | Permintaan proyek energi bersih |
Singkatnya, apakah klaim itu benar bergantung pada lensa yang dipakai. Dari sisi data kini, kecenderungan penurunan lebih jelas, namun ada kantong-kantong ketahanan yang memberi kesan relatif tenang. Dampak praktis harus menjadi fokus kita berikutnya.
Risiko Utama: Konflik Geopolitik, La Niña, dan Hambatan Perdagangan

Beberapa kejadian eksternal bisa membalik tren turun menjadi lonjakan harga yang tiba-tiba. Kita harus memahami jalur transmisi dan indikator yang perlu dipantau.
Skenario konflik yang melambungkan harga minyak
Bank Dunia memperingatkan bahwa eskalasi di Timur Tengah dapat menekan pasokan hingga 6–8 juta bph. Dalam skenario ekstrem, harga minyak bisa melonjak ke US$140–157 per barel.
Kenaikan itu muncul lewat tiga mekanisme: gangguan fisik pasokan, premi risiko pasar, dan biaya logistik serta asuransi yang naik tajam. Karena sifatnya non-linear, perubahan kecil pada pasokan dapat memicu lonjakan besar.
Cuaca ekstrem dan permintaan listrik mempengaruhi pangan-energi
Fenomena La Niña yang lebih kuat berisiko mengganggu panen dan menaikkan kebutuhan listrik untuk pemanasan atau pendinginan.
Gangguan panen menekan pasokan pangan, sementara kebutuhan listrik seasonal mendorong permintaan energi. Kombinasi ini memberi tekanan silang pada pasar dan dapat membalik penurunan harga di beberapa segmen.
- Kami jelaskan bahwa hambatan perdagangan dan tarif baru meningkatkan biaya pengiriman dan memperpanjang waktu transit.
- Beberapa negara bisa menahan penurunan harga domestik lewat kebijakan subsidi atau kontrol, sehingga terjadi deviasi regional.
- Kita rekomendasikan pemantauan persediaan minyak komersial, prakiraan cuaca musiman, dan kebijakan tarif di negara kunci.
| Risiko | Jalur Transmisi | Potensi Dampak |
|---|---|---|
| Konflik berskala besar | Gangguan pasokan, premi risiko | Lonjakan harga minyak; volatilitas tajam |
| La Niña | Panen terganggu, permintaan listrik naik | Tekanan pada pangan dan energi |
| Hambatan perdagangan | Biaya logistik naik, keterlambatan | Spread harga regional dan gangguan rantai |
Dengan peta risiko yang jelas, kita dapat menilai peluang dan jebakan saat mengambil posisi di pasar. Manajemen risiko harus menjadi prioritas utama.
Dampak ke Indonesia: Inflasi, Listrik, Ekspor-Impor, dan Daya Beli
Saat energi global melunak, efek itu cepat terasa pada ekonomi domestik. Penurunan energi 2023–2024 telah meredam inflasi dan memberi ruang kebijakan untuk 2025–2026 menurut bank dunia.
Turunnya energi meredakan tekanan inflasi
Energi lebih murah menekan biaya transportasi dan produksi. Ini juga menurunkan biaya pembangkitan listrik berbasis bahan bakar fosil.
Hasilnya: tekanan inflasi cenderung melemah, memberi peluang reformasi fiskal dan alokasi subsidi yang lebih efisien.
Peluang dan tantangan bagi ekspor
Penurunan batu bara menurunkan penerimaan ekspor. Sementara itu, CPO tetap sensitif terhadap pasar global.
Lonjakan pupuk pada 2025 menekan margin petani dan berdampak pada produktivitas. Oleh karena itu, dukungan input yang tepat sasaran diperlukan.
| Aspek | Dampak | Implikasi Kebijakan |
|---|---|---|
| Inflasi | Mereda | Ruang fiskal untuk reformasi |
| Ekspor | Pendapatan turun (batu bara) | Diversifikasi pasar dan nilai tambah |
| Industri | Biaya produksi turun | Manfaat bagi sektor intensif energi |
Kami mendorong pelaku usaha menata ulang kontrak energi dan bahan baku. Secara makro, ekonomi berpotensi mendapat angin bantuan dari inflasi yang lebih jinak, namun waspadai tekanan pada sektor berbasis ekspor.
Skenario 2025-2026: Turun, Stabil, atau Berbalik Naik?
Menghadapi ketidakpastian, kami merumuskan tiga jalur yang mungkin menuntun pasar pada periode 2025–2026.
Baseline menurut bank dunia menunjukkan pelemahan lanjutan pada komoditas, dengan energi turun signifikan. Brent diperkirakan rata-rata US$64 pada 2025 dan US$60 pada 2026. Permintaan minyak tertahan oleh adopsi kendaraan listrik, sementara beberapa logam transisi berpeluang pulih pada 2025.
Tiga jalur utama
- Turun 2025: penurunan meluas namun kedalaman lebih dangkal dibanding periode sebelumnya—fase konsolidasi.
- Rentang sempit: setelah koreksi, harga bergerak dalam level yang relatif stabil karena keseimbangan baru permintaan dan pasokan.
- Berbalik naik: reli terbatas pada logam transisi dan emas, atau lonjakan energi jika terjadi kejutan geopolitik.
| Indikator | Arah | Kenapa penting |
|---|---|---|
| Data permintaan industri | Naik/Turun | Menunjukkan kekuatan pemulihan ekonomi |
| Inventori minyak | Level | Menandai tekanan jangka pendek pada harga minyak |
| Kebijakan produksi | Pengetatan/Longgar | Mengubah pasokan global secara cepat |
Kita menyarankan pendekatan portofolio fleksibel: kunci biaya energi saat lemah, dan siapkan eksposur selektif pada logam yang didorong oleh transisi energi. Baseline bank dunia memberi jangkar ekspektasi, namun manajemen risiko tetap utama.
Implikasi Kebijakan dan Strategi Bisnis: Apa yang Perlu Kita Lakukan?
Saat momentum pasar berubah, kebijakan publik dan strategi bisnis harus segera menyesuaikan. Data pimpinan ekonom Bank Dunia menyarankan negara-negara berkembang memanfaatkan fase energi rendah untuk memperkuat disiplin fiskal dan mendorong iklim investasi.
Reformasi fiskal, arus perdagangan, dan iklim investasi
Kita rekomendasikan reformasi fiskal yang pro-pertumbuhan dan penajaman belanja produktif. Pelonggaran hambatan perdagangan dapat menurunkan biaya input bagi industri.
Penguatan iklim investasi lewat kepastian regulasi dan insentif akan menarik rantai pasok global saat tekanan pasar mereda. Untuk referensi kebijakan, lihat ringkasan analisis terkait.
Manajemen risiko harga untuk pelaku industri dan agribisnis
Volatilitas tertinggi dalam lebih dari 50 tahun mengharuskan perbaikan kerangka manajemen risiko publik dan korporasi.
- Kita sarankan BUMN dan korporasi menerapkan lindung nilai terukur untuk melindungi margin.
- Kontrak jangka menengah dengan klausul penyesuaian menekan risiko biaya input.
- Agribisnis perlu menata ulang kalender tanam dan pengadaan pupuk menjelang lonjakan biaya 2025.
| Area | Saran Kebijakan | Dampak yang Diharapkan |
|---|---|---|
| Fiskal | Penajaman belanja produktif | Mendukung pertumbuhan jangka menengah |
| Perdagangan | Pelebaran akses impor bahan baku | Menurunkan biaya produksi |
| Manajemen Risiko | Hedging & klausul penyesuaian | Perlindungan margin perusahaan |
Kita juga mengingatkan pentingnya skenario darurat untuk mengatasi kemungkinan konflik yang dapat mendorong kembali lonjakan energi. Keputusan harus berbasis data berkala dan laporan pasar agar kebijakan dan strategi tetap responsif.
Kesimpulan
Kita simpulkan bahwa menurut World Bank dan Bank Dunia, baseline menunjukkan turun 2025 untuk banyak komoditas, dengan energi sebagai penggerak utama dan beberapa subsektor yang lebih tahan.
Data memberi gambaran penurunan agregat, namun rata-rata masih di atas level pra-pandemi. Brent diperkirakan sekitar US$64 pada 2025 dan US$60 pada 2026, sehingga tekanan turun tidak sama dengan kembalinya ke level lama.
Permintaan yang melambat—termasuk pada minyak karena adopsi kendaraan listrik—ditambah pasokan yang longgar membentuk keseimbangan baru. Pertumbuhan global yang moderat menjaga bias ke bawah, kecuali terjadi kejutan risiko seperti konflik atau La Niña.
Untuk negara-negara berkembang, lingkungan ini memberi peluang reformasi fiskal dan efisiensi. Namun kita harus siap menghadapi volatilitas episodik: tetap agile, berbasis data, dan disiplin dalam manajemen risiko agar hasil bisa dimaksimalkan.






