
Tahun ini menandai peringatan yang signifikan, yakni 70 tahun hubungan antara Tiongkok dan Afrika. Perayaan ini menjadi momen penting untuk mengevaluasi peran Afrika dalam kebijakan luar negeri Tiongkok dan bagaimana kemitraan ini telah berkembang dan diperkuat sepanjang beberapa dekade. Dalam konteks global yang terus berubah, hubungan ini tidak hanya menunjukkan solidaritas, tetapi juga menciptakan peluang bagi kedua belah pihak untuk tumbuh bersama.
Sejarah dan Evolusi Hubungan Tiongkok-Afrika
Sejak awal, hubungan Tiongkok-Afrika telah dibentuk oleh semangat solidaritas dalam perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme. Pada era 1950-an hingga 1970-an, Tiongkok memberikan dukungan yang signifikan kepada negara-negara Afrika dalam mencapai kemerdekaan nasional. Dukungan ini tidak hanya bersifat moral, tetapi juga mencakup bantuan materiil dan diplomatik, yang membantu banyak negara Afrika untuk berdiri di panggung dunia.
Salah satu momen penting dalam sejarah hubungan ini terjadi pada tahun 1971, ketika negara-negara Afrika berperan krusial dalam pemulihan kursi sah Republik Rakyat Tiongkok di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dari 76 suara yang mendukung resolusi tersebut, 26 di antaranya berasal dari negara-negara Afrika. Dukungan ini menjadi fondasi yang kuat untuk membangun kepercayaan timbal balik antara Tiongkok dan Afrika.
Tradisi Kunjungan dan Komitmen Tiongkok
Pentingnya hubungan ini tercermin dalam tradisi kunjungan pejabat tinggi Tiongkok ke benua Afrika. Awal tahun ini, Menteri Luar Negeri Tiongkok, Wang Yi, melakukan kunjungan ke beberapa negara Afrika, melanjutkan tradisi yang telah berlangsung selama 36 tahun. Kunjungan ini menegaskan komitmen Tiongkok terhadap penguatan hubungan bilateral dan menunjukkan bahwa Afrika tetap menjadi prioritas dalam kebijakan luar negeri Tiongkok.
Kerja Sama yang Meningkat: Dari FOCAC hingga Inisiatif Modernisasi
Sejak pembentukan Forum Kerja Sama Tiongkok-Afrika (FOCAC) pada tahun 2000, hubungan Tiongkok-Afrika semakin berkembang pesat. FOCAC memberikan kerangka kerja kelembagaan yang jelas untuk memfasilitasi kolaborasi di berbagai bidang, termasuk ekonomi, pendidikan, dan infrastruktur. Kebijakan Tiongkok yang berfokus pada ketulusan dan hasil nyata menjadi pedoman dalam membangun hubungan yang saling menguntungkan.
Pada tahun 2015, kedua belah pihak sepakat untuk meningkatkan hubungan menjadi kemitraan kerja sama strategis komprehensif dan meluncurkan “Sepuluh Rencana Kerja Sama”, yang bertujuan untuk mempercepat modernisasi di seluruh benua Afrika. Rencana ini mencakup berbagai sektor, dari pembangunan infrastruktur hingga pengembangan sumber daya manusia, yang merupakan langkah penting menuju kemandirian dan pertumbuhan berkelanjutan bagi negara-negara Afrika.
KTT FOCAC 2024: Langkah Menuju Masa Depan Bersama
Pada KTT FOCAC 2024 yang akan datang, Tiongkok dan Afrika berencana untuk meningkatkan hubungan mereka menjadi komunitas yang lebih tangguh. Salah satu inisiatif yang menarik adalah ekspansi akses bebas bea, yang akan mencakup seluruh 53 negara Afrika yang memiliki hubungan diplomatik dengan Tiongkok pada tahun 2025. Ini menjadikan Tiongkok sebagai ekonomi besar pertama yang memberikan perlakuan tarif nol untuk seluruh kategori produk kepada negara-negara Afrika.
Ekonomi dan Pertumbuhan: Pilar Utama Kemitraan
Kepercayaan politik yang terjalin selama puluhan tahun menjadi fondasi yang kokoh, namun kerja sama ekonomi menjadi mesin penggerak utama dalam kemitraan ini. Menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan Tiongkok, perdagangan antara Tiongkok dan Afrika mencapai rekor $348 miliar pada tahun 2025, meningkat 17,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Tiongkok telah menjadi mitra dagang terbesar Afrika selama 17 tahun berturut-turut, dan tren positif ini diperkirakan akan berlanjut.
Inisiatif Sabuk dan Jalan juga telah berkontribusi signifikan dalam meningkatkan konektivitas di seluruh benua. Proyek-proyek infrastruktur seperti Kereta Api Tazara dan Kereta Api Lebar Standar Mombasa-Nairobi menjadi contoh nyata dari kerja sama berkualitas tinggi antara Tiongkok dan Afrika. Proyek-proyek ini bukan hanya meningkatkan transportasi dan perdagangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat setempat.
Keringanan Utang dan Investasi Manusia
Tiongkok juga telah mengambil langkah-langkah signifikan dalam meringankan beban utang bagi negara-negara Afrika. Pada tahun 2023, Tiongkok menandatangani perjanjian keringanan utang dengan 19 negara Afrika, menjadikannya sebagai kontributor terbesar dalam upaya penangguhan pembayaran utang di bawah kerangka G20. Langkah ini membantu negara-negara tersebut untuk mengalihkan sumber daya mereka ke sektor-sektor yang lebih produktif.
Di sisi lain, Tiongkok berkomitmen untuk meningkatkan sumber daya manusia di Afrika. Melalui berbagai program pelatihan, beasiswa, dan pertukaran pendidikan, Tiongkok telah melatih puluhan ribu profesional Afrika. Hingga Juni 2025, Tiongkok telah menyelenggarakan 17 Lokakarya Luban di 15 negara Afrika, yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan di berbagai sektor, termasuk teknologi dan industri hijau.
Solidaritas dan Peran dalam Tatanan Global
Kerja sama Tiongkok-Afrika tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi, tetapi juga mencerminkan solidaritas yang lebih luas antar negara-negara Selatan Global. Menurut Humphrey Moshi, seorang ekonom terkemuka asal Tanzania, kerja sama ini telah membantu negara-negara berkembang untuk bertransformasi dari “peserta pasif” menjadi “pembentuk aktif” dalam aturan internasional. Dengan kata lain, hubungan ini tidak hanya menguntungkan kedua belah pihak, tetapi juga memperkuat posisi negara-negara Selatan dalam tatanan global.
Dengan memperkuat dukungan dan kolaborasi, Tiongkok dan Afrika dapat bersama-sama menghadapi tantangan global yang kompleks, mulai dari perubahan iklim hingga ketidakpastian ekonomi. Keduanya memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dan menciptakan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat mereka.
Dampak Jangka Panjang dari Kerja Sama
Kerja sama yang telah terjalin selama 70 tahun ini menunjukkan bahwa hubungan Tiongkok-Afrika bukan sekadar kemitraan ekonomi, tetapi juga sebuah aliansi strategis yang berlandaskan pada nilai-nilai solidaritas dan saling menghormati. Dengan pendekatan yang inklusif dan saling menguntungkan, kedua belah pihak dapat terus mengembangkan potensi mereka dan berkontribusi terhadap pertumbuhan yang berkelanjutan.
Dalam era yang penuh ketidakpastian ini, penting bagi Tiongkok dan Afrika untuk terus memperkuat komitmen satu sama lain. Dengan berlandaskan pada sejarah panjang dan hubungan yang telah terjalin, masa depan keduanya tampak cerah, penuh dengan peluang untuk mencapai kesuksesan bersama.





